Cuma Punya 1 Hari di Bandung, Ngapain Aja? Ke Ciwidey Yuk!

September 13, 2018

Hiruk pikuk Kota Jakarta yang sesak dengan kemacetan dan aktivitas manusia di mana-mana memang seringkali membuat penduduknya jenuh, membutuhkan space untuk menenangkan pikiran, bersantai atau bepergian ke kota lain yang lebih tenang. Salah satu kota yang sering menjadi pilihan warga Jakarta saat weekend atau hari libur adalah Kota Bandung. Hal ini mengingat secara geografis letaknya berdekatan dengan Jakarta dan gampang diakses menggunakan berbagai alternatif transportasi. Bandung, salah satu kota yang populer di Indonesia, tidak hanya bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Bahkan banyak pelancong yang berasal dari luar Jabodetabek berseliweran di Bandung. Bagaimana tidak? Bandung menyuguhkan destinasi wisata yang beragam mulai dari wisata budaya dan sejarah, kuliner, perkotaan hingga wisata alam yang sudah terkenal akan keindahannya. Saya memilih menyesap segarnya udara di Ciwidey, Bandung Selatan yang merupakan bagian dari Kabupaten Bandung. Ciwidey sarat akan keindahan alamnya, berada di ketinggian dengan udara yang sejuk dan destinasi yang membuat pelancong betah berlama-lama. Biasanya saat weekend Bandung memang disesaki para pelancong yang sebagian besar berasal dari Jakarta. Perjalanan saya di Ciwidey ini berawal dengan menghirup udara segar di perkebunan teh hingga bermain bersama rusa-rusa pintar di Kampung Cai Ranca Upas. Semua kegiatan ini saya lakukan dalam satu hari mengingat lokasi wisata yang berdekatan dan dirasakan cukup untuk menjelajahnya dari pagi hingga sore hari. Pengennya sih ke banyak tempat, tapi rasanya ga sempat karena Bandung memang juara ramenya ketika weekend begini, termasuk tempat wisata yang berada di Kabupaten Bandung seperti yang saya kunjungi saat ini, sukses jadi buruan para pelancong akhir pekan.

Well, kenapa saya mengangkat tulisan dengan judul ini karena memang benar beberapa minggu yang lalu saya cuma punya waktu 1 hari berada di Bandung yakni pada hari Sabtu. Awalnya saya ingin menghabiskan dua hari weekend saya (Sabtu-Minggu) di Bandung. Namun berhubung hari Minggu-nya saya ada undangan teman di Bogor, alhasil saya urungkan niat untuk berlama-lama di Bandung. Saya berangkat dari Jakarta pada Jumat malam. Jadi, saya tidak membutuhkan penginapan, cukup bermalam di perjalanan, hemat beb!

Tanpa perlu berlama-lama dengan intro ini, saya akan memberikan sedikit pencerahan untuk liburan 1 harimu di Bandung. Cuma punya 1 hari di Bandung? Siapa takut! Yuk, simak kisah perjalanan saya selama 1 Hari di Ciwidey, Bandung Selatan!
Perkebunan Teh Ranca Bali

Saya tiba di Ciwidey pada hari Sabtu sekitar pukul 05.30 pagi. Tujuan pertama saya pagi ini adalah Situ Patenggang. Situ Patenggang merupakan danau yang berada di ketinggian 1.628 meter di atas permukaan laut. Berada di bawah kaki Gunung Patuha dengan suhu dibawah 20 derajat celcius. Pemandangan Situ Patenggang ditunjang dengan panorama Perkebunan Teh Ranca Bali seluas 1.500 hektar. Harga tiket masuk Situ Patenggang adalah Rp. 18.000 per orang (weekdays) dan Rp. 20.500 per orang saat weekend. Murah bukan? Dan apabila kamu ingin naik perahu tarifnya Rp. 30.000 per orang dengan kapasitas satu perahu terdiri dari 15 orang.

Berhubung masih terlalu pagi, jadi tempat wisata ini belum dibuka. Saya hanya numpang shalat subuh di mushalla yang ada di area parkir Situ Patenggang. Suhu di pagi hari terasa sangat dingin hingga membuat kulit saya perih. Daripada membuang waktu, saya pun keluar dari area Situ Patenggang (pakai mobil), saya melewati jalanan berkelok-kelok dengan pemandangan hamparan Perkebunan Ranca Bali di sisi kiri-kanan jalan. Saya melipir sebentar untuk berfoto-foto dan menghirup segarnya udara perkebunan teh. Memang benar, udara disini sangat dingin dan segar sampai keluar asap dari mulut tiapkali berbicara. Daebak!! Berasa di Korea euy...

Hamparan kebun teh ini sangat memanjakan mata. Tak heran kenapa cukup banyak pelancong menjadikan perkebunan teh sebagai salah satu spot foto terbaik mereka. Karena saya hanya melipir sebentar di kebun teh yang di pinggiran jalan, jadi tidak ada biaya tiket masuk yang saya keluarkan. Saya sangat menikmati suasana pagi ini; pemandangan yang sangat indah, matahari yang perlahan menampakkan diri dari balik bukit, udara segar yang membersihkan paru-paru saya, daun teh yang masih basah oleh embun pagi, dan aroma tanah yang khas. Perpaduan elemen alam yang mampu membangkitkan semangat saya untuk menghadapi hari.

Matahari kian tinggi, pukul 06.30 saya melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Kawah Putih yang sudah lama tersohor akan keindahannya.
Kawah Putih
Tiba di kawasan Kawah Putih, saya sarapan terlebih dahulu. Spot untuk sarapan ada di area parkiran mobil. Disana banyak warung-warung yang menyediakan sarapan nasi uduk, indomie dan jagung bakar. Harga pun relatif murah. Saya makan semangkok mie rebus dan segelas teh manis panas hanya Rp. 10.000. Saya rasa mie rebus sangat cocok di suhu yang sangat dingin.

Kawah Putih merupakan tempat wisata yang berada di atas pegunungan di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Kawah Putih adalah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Warna putih kehijauan air danau dikarenakan adanya reaksi dari belerang. Terkadang warnanya juga berubah-ubah sesuai suhu, cuaca dan kadar belerang di dalam danau. Kontur tanahnya pun unik dan didominasi pohon-pohon kering semakin menambah kesan indah tempat ini. Dijamin kamu bakalan takjub dengan keindahan Kawah Putih. Tiket masuknya pun relatif murah seharga Rp. 20.000 untuk wisatawan dalam negeri (weekday dan weekend/hari libur) dan Rp. 50.000 untuk wisatawan asing (weekday dan weekend/hari libur). Buka mulai pukul 07.00-17.00 setiap harinya.

Cara Menuju Kawah Putih

Kamu tak perlu repot trekking untuk menuju spot Kawah Putih. Tersedia angkutan yang disebut "Ontang-anting". Kendaraan ini bentuknya seperti angkot cuma sedikit dimodifikasi dengan tempat duduk penumpang menghadap ke arah supir. Sesuai dengan namanya ontang-anting, ketika kamu naik kendaraan ini, kamu akan merasakan sensasi seperti naik ontang-anting di Dufan. Jalanan berkelok-kelok dan terus menanjak membuat badanmu terguncang ke kanan-kiri. Belum lagi dikemudikan dengan kecepatan yang tinggi. Seru bukan? Tapi jangan lupa untuk selalu berpegangan pada handle pintu ya biar ga jatuh. Tarif naik ontang anting ini hanya Rp. 15.000 per orang untuk pulang-pergi. Untuk ontang-onting pulang, tersedia di depan gerbang keluar-masuk kawah putih.

Setibanya di spot kawah putih, kamu akan takjub dengan keindahannya. Ada baiknya bawa masker penutup hidung ya karena bau belerangnya cukup menyengat. Tapi, jangan khawatir kalaupun kamu lupa membawa masker, disana juga terdapat pedagang yang menjajakan masker seharga Rp. 5.000.





Kamu diperbolehkan untuk membawa kamera dan bebas untuk berfoto ria tanpa dipungut bayaran. Namun, jika ingin berfoto di jembatan yang berada di tengah-tengah kawah, kamu hanya perlu membayar Rp. 10.000 per orang. Disana juga terdapat fotografer keliling yang menjajakan jasa fotografi dengan kualitas baik dan langsung cetak sehingga bisa dijadikan sebagai cinderamata yang dapat kamu bawa pulang. Harga per foto yang telah dicetak plus soft file-nya seharga Rp. 20.000. Lumayan kan buat dipajang dirumah dan mejeng di medsos kamu?
Menjelang pukul 12 siang, saya beranjak ke penangkaran rusa ranca upas. Jaraknya berdekatan dengan kawah putih.
Penangkaran Rusa Ranca Upas








Penangkaran Rusa Ranca Upas ini berada dalam satu kawasan bernama Kampung Cai Ranca Upas. Selain camping ground dan area outbound, area yang diminati pengunjung adalah penangkaran rusa. Ternyata ga cuma anak-anak lho yang bisa bermain dengan rusa disini. Kita pun yang dewasa juga diperbolehkan untuk bermain, memberi makan rusa dan berfoto bersamanya. Bahkan penangkaran rusa ini kerap dijadikan sebagai spot pengambilan foto pre-wedding dan filmografi. Keren kan?


Karena lokasinya yang berdekatan dengan kawah putih, jadi ga terlalu membingungkan untuk sampai disini. Tarif tiket masuk kawasan kampung cai ranca upas Rp. 15.000 per orang. Untuk biaya parkir, kamu harus membayar  Rp. 5.000 untuk kendaraan roda dua, Rp.  10.000 untuk kendaraan roda empat dan Rp. 20.000 untuk kendaraan roda enam (bus). Nah, bagi kamu yang ingin ke penangkaran rusanya, letaknya tidak terlalu jauh dari parkiran. Kamu tidak perlu membayar tiket masuk lagi, hanya perlu membeli wortel satu ikat seharga Rp. 10.000 sebagai pakan rusa. 

Siap-siap ya kalo kamu bakal dikejar-kejar rusa tiapkali keliatan membawa wortel. Rusanya pinter-pinter banget lho! Kayak temen saya ini, berasa emaknya rusa dikejar-kejar, uppsss...

Kalo saya sih ga berani, awalnya karena takut ditanduk sih. Tapi kelamaan motret rusa, jadi gemes juga sama rusa. Eh...rusanya malah ngikutin. Minta difoto kayaknya, tuh buktinya!












Selesai bermain bersama rusa, saya beristirahat untuk shalat dan makan siang. Di kawasan ranca upas ini, terdapat mushalla yang bersih dan nyaman. Juga terdapat banyak sekali penjual makanan. Kalo kata si mang cuanki, pedagang disini ramenya pas weekend doang. Kalo hari biasa, cenderung sepi pedagang yang mangkal. So, ini bisa jadi input buat kamu yang mau ke ranca upas ketika weekday, siap-siap bawa bekal makanan. Sekalian piknik kece gitu kan! Tapi jangan khawatir, keluar dari kampung cai ranca upas ini kamu akan menemukan beberapa tempat makan di sepanjang jalan ciwidey. Bisalah browsing-browsing dulu sebelum kesana.

Saya mengakhiri perjalanan saya di Ciwidey dengan berbelanja bekal stroberi di tiga tempat yang saya sebutkan di atas. Harga satu kotak stroberi kisaran Rp. 10.000-15.000, banyak enggaknya isi satu kotak tergantung ukuran buahnya. 

Well, selesai perjalanan saya selama 1 hari di Ciwidey, Bandung Selatan. Menjelang sore, saya pulang ke Jakarta takut keburu macet di perjalanan.   






You Might Also Like

0 komentar