Rekam Hidup: Aku Merindukan Alm. Ayah Mertuaku!

April 11, 2021


11 April 2021, hari ini adalah 27 hari kepergian ayah mertuaku dari kehidupan dunia ini menuju kehidupan abadi bertemu Sang Khalik. Tampaknya hatiku tak baik-baik saja sejak kepergiannya. Aku merindukan beliau, Ayah mertuaku yang amat sangat aku cintai. Rumah mertuaku yang sejak beberapa pekan ini aku tempati terasa sangat kosong dan sepi. Suara serak Ayah dengan logat kental Jambinya bergelak tawa memanggil cucu kesayanganya, tak lagi terdengar di rumah besar ini. Bahkan TV yang biasanya menyala dan kami tonton bersama, kini telah rusak seolah tahu bahwa sang pemiliknya telah tiada. Kini dirumah hanya ada Ibu mertuaku yang biasa kupanggil "Mak", suamiku, aku, dan bayi cantikku, Husna.  

Sejak 3 tahun terakhir ini, Ayah memang sering keluar-masuk rumah sakit karena pendarahan lambung yang tak kunjung sembuh. Sudah banyak rumah sakit di Kota ini yang kami datangi dengan beragam diagnosa, mulai dari anemia, pendarahan lambung, dan yang terakhir ini gagal ginjal. Tadinya suamiku ingin membawa Ayah berobat ke rumah sakit di Malaka, Malaysia. Namun kondisi pandemi ini tak memungkinkan kami bisa masuk ke Malaysia. 

5 Maret 2021 lalu, Ayah mertuaku harus dilarikan ke IGD Rumah Sakit Pertamedika Jambi karena kondisinya yang sangat lemah dengan bagian dada yang biru lebam seperti pendarahan dalam. Awalnya hanya ingin cek darah di Lab. Medika, Jelutung karena memang beliau inginnya rawat jalan saja. Namun kondisi beliau sudah sangat lemah sehingga selesai dari lab, suamiku langsung memacu kendaraan ke RS Pertamedika, tempat beliau sebelumnya di opname. Seminggu lamanya beliau di opname di rumah sakit tersebut dengan ketatnya protokol kesehatan sehingga tidak diperbolehkan ada orang yang menjenguk. Bahkan yang menjaga pun hanya satu orang yakni Mak (Ibu Mertuaku). Selama di RS, ayah harus menerima transfusi darah untuk menaikkan kadar Hemoglobinnya. Ayah masih lemah, fesesnya hitam seperti sebelum masuk RS dan lebam di badannya masih ada. Setiap hari suamiku harus mencari pendonor dan bolak-balik PMI hingga pengobatan selesai dan pihak rumah sakitpun memulangkan Ayah di tanggal 12 Maret 2021 karena kondisinya dianggap sudah cukup membaik. 

Berada di rumah, kondisi Ayah malah memburuk sehingga di hari Senin, 15 Maret pagi, Ayah harus dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Rupanya untuk mendapatkan fasilitas ambulans bukan perkara gampang hingga akhirnya kami pun mendapatkan ambulans berbayar. Rencananya, Ayah akan dilarikan ke ICU RS terdekat yaitu Siloam Hospitals. Namun karena ICU penuh, maka dibawa kembali ke RS Pertamedika. Namun sayangnya ditolak oleh RS tersebut dan dirujuk ke RSUD Raden Mattaher. Ayah diterima di IGD RSUD Raden Mattaher pukul 09.41 Senin pagi dan ditindaklanjuti oleh dokter jaga. Ayah baru dipindahkan ke kamar perawatan sekitar pukul 21.00 malam dan hanya dijaga oleh suamiku seorang diri. 

Malam itu, Mak bermalam di rumah kami. Rasanya tidak memungkinkan jika beliau harus berjaga di rumah sakit lagi karena Mak sedang tidak fit karena kelelahan. Dan jikapun pulang kerumahnya, tak ada orang dirumah. 

Keesokan paginya, suamiku menelpon Mak agar bergantian jaga Ayah di RS sampai siang karena ia ingin istirahat sebentar di rumah. Mak pun segera berangkat dari rumah pukul 08.19 pagi dengan gocar yang suamiku pesan. 

Dirumah, aku melakukan rutinitas harian seperti biasanya, memandikan bayi cantikku Husna kemudian memasak sarapan. Karena gas dirumahku habis, aku menumpang masak di rumah Mamaku yang bertetanggaan dengan rumah kami. 

Pagi itu mendung, hujan turun dengan tipis. Makanan Husna yang telah matang, buru-buru aku bawa pulang kerumah. Husna masih dalam gendongan neneknya. Tak lama kemudian, Mamaku datang kerumah sambil berteriak dan menangis mendapatkan telepon dari suamiku mengabarkan bahwa Ayah mertuaku telah tiada. Hari itu hatiku runtuh, tangisku pecah seketika, tak tahu apa yang harus kulakukan. Hujan turun dengan derasnya mengiringi kepergian Ayah mertuaku yang baik dan soleh. Tangisku makin menjadi. Kucari handphone ku yang entah ada dimana karena sebelumnya dimainin Husna. Aku ingin menelpon suamiku lagi. Memastikan kabar dari Mama. Kulihat rentetan panggilan dari suamiku di layar smartphone. Aku terduduk di kamar. Tak terpikirkan lagi harus memberi makan anak karena hatiku yang sedih. Mama yang melihatku, buru-buru menyadarkan pikiranku yang melayang agar sebaiknya segera pulang kerumah mertua untuk bersiap di rumah. Urusan Husna diambil alih Mama dan adik perempuanku. Aku bergegas kerumah mertua.

Tiba di rumah mertua, saudara Mak dan para sepupu telah berkumpul dan bersiap. Langkah kakiku goyah dan ku kuatkan hati dirumah itu. 

Ya, bagiku Ayah mertuaku terasa seperti Ayah kandungku. Aku yang hadir sebagai menantu satu-satunya dirumah itu disayangi layaknya anak sendiri. Aku memang baru pindah ke Jambi setelah lebaran tahun 2019. Saat itu, aku hamil Husna di trimester pertama. Sebelumnya, aku bekerja dan tinggal di Jakarta. Meski jauh, aku sering mudik ke Jambi dan sejak menjadi menantunya, Ayah-lah yang awalnya lebih dekat denganku. Ayah sering menanyakan kabarku, entah itu lewat telepon atau bertanya ke suamiku. Yang ku dengar dari suamiku bahwasanya Ayah juga sering menceritakanku dan membanggakanku ke orang-orang terdekatnya. Setiap mendengar itu, aku bahagia dan bersyukur bahwa aku diterima baik di keluarga itu, terkhusus di hati ayah mertuaku. 

Hingga kini, rasanya seperti mimpi jika aku harus kehilangan Ayah mertuaku secepat ini. Seakan beliau hanya pergi sebentar ke kebunnya dan pulang di sore hari. 

Kehadiran Ayah Hasan, ayah mertuaku memberikan kesan yang sangat mendalam di hatiku. Beliau orang yang amat baik dan sederhana dalam kesehariannya. Ayah juga seorang yang soleh dalam pandanganku karena beliau selalu sholat tepat waktu dan mengisi hari-harinya dengan mengaji. Belum lagi amalan-amalan sunnah lainnya yang tak absen beliau lakukan. Beliau juga suka membaca buku. Buku karangan Buya Hamka adalah favoritnya. Aku dan suamiku seringkali menjadikan buku tersebut sebagai buah tangan. Duduk di depan jendela menghadap ke arah luar, itulah posisi kesukaan beliau ketika mengaji, membaca buku, atau bersantai. 

Beliau juga menonton TV dan mendengar radio di waktu senggangnya. Jika berbicara artis, Raja Dangdut Rhoma Irama, idolanya. 

Memang sejak sakit beberapa tahun belakangan, beliau lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Bahkan ke kebun pun tak bisa. Ada sekali waktu beliau mampu untuk pergi ke kebun sawitnya yang berjarak belasan kilometer dari rumah. 

Lahirnya Husna, cucu pertama dari anak semata wayangnya yaitu suamiku menambah semarak hati beliau. Tingkah Husna yang menggemaskan seringkali membuat Ayah mertuaku tertawa bersemangat. Jika mengingat itu, aku sedih sekali dan makin merindukannya karena senyum dan tawa beliau selalu melekat dalam ingatanku. Wajah beliau yang begitu bahagia dengan hadirnya cucu yang dinantikan selama ini. Sama halnya bagi Ayah dan Ibu Kandungku, Husna juga cucu pertama mereka, karena aku anak pertama dari orang tuaku. 

Ayah mertuaku pernah bilang "Husna kagek kuliah kayak Mama yo di Bogor". ("Husna nanti kuliah seperti Mama ya di Bogor".)

"Husna kagek jadi penghafal Al-Qur'an yo"! ("Husna nanti jadi penghafal Al-Qur'an ya"!)

Kata-kata beliau itu menjadi doa untuk Husna yang kelak diijabah Allah. Aamiin... 

Karena sejak umur Husna dibawah setahun, Husna mulai tertarik dengan Al-Quran setiap kali aku dan suamiku mengaji. Husna juga senang sekali mendengar shalawat bahkan sampai sekarang di usianya 15 bulan sudah mencoba mengikuti. 

Raga Ayah mertuaku memang sudah tiada di dunia ini, tapi Insya Allah beliau berada ditempat terindahnya Allah. Kehadiran beliau dinantikan Syurga. Hamba sebagai menantunya bersaksi bahwa beliau orang yang soleh dan baik semasa hidupnya Ya Allah. Insya Allah kami semua akan berkumpul bersama di Syurganya Allah. Aamiin... Allahumma Aamiin... 

Selamat Jalan Ayah Mertuaku! Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa'afihii Wa'fu 'anhu! 


You Might Also Like

0 komentar